Salam

Saturday, November 21, 2009

Pada suatu malam.

Pada suatu malam di Rumah Amalia. Terdengar suara anak-anak yang sedang membaca al-Quran. Beberapa hari ini malam turun hujan. Ada beberapa anak Amalia yang sedang sakit. Sekalipun begitu anak-anak Amalia masih tetap bersemangat untuk belajar. Saya mengatakan kepada anak-anak nanti Kak Agus mau bercerita. 'Asyik..' Teriak Fadel. 'Pasti ceritanya seru nih..'kata Adi. 'Tapi nggak boleh berisik ya..' kata Lola dengan mata melotot. Wajah mereka seolah sudah tak sabar menanti. Tak Lama kemudian setelah semua sudah membaca al-Quran saya bercerita kisah yang terjadi pada masa Nabi Sulaiman.

Di Masa Nabi Sulaiman Alaihissalam ada bayi yang diperebutkan oleh dua ibu. Keduanya mengaku sebagai ibu dari bayi itu, tidak ada yang mau mengalah dan mengakui siapa sebenarnya ibu sang bayi, karena sama-sama bersikukuh sebagai ibu maka persoalan itu dibawalah kepada Nabi Sulaiman. 'Lantas apa yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman Kak?' tanya Desi. 'Nah, yang terjadi selanjutnya Nabi Sulaiman memerintahkan kedua ibu sang bayi maju kedepan dan bertanya, siapakah ibu dari sang bayi ini? tanya Nabi Sulaiman. Keduanya menangkat tangan. karena keduanya tetap ngotot mengaku sebagai ibu sang bayi, Nabi Sulaiman berpura-pura akan membelah bayi itu agar terbagi dua.

'Wah..kasihan dong Kak, bayinya kan tidak berdosa?' teriak Egi.

'Kan Nabi Sulaiman nggak beneran belahnya..'jawab Irji.

Kalian tahu apa yang terjadi?' tanya saya. 'Tidak kak!' Jawab anak-anak Amalia serentak.

Tiba-tiba salah satu ibu yang berbadan kurus menyetujui usulan itu. Sementara ibu yang berbadan gemuk menolak usulan itu dan merelakan sang bayi itu karena tidak tega bila bayinya dibelah. Dengan berlinangan air mata ibu itu memohon kepada Nabi Sulaiman agar bayinya tidak dibelah dan dia rela menyerahkan bayi itu kepada ibu yang kurus. Akhirnya Nabi Sulaiman mengerti bahwa ibu sang bayi adalah ibu yang berbadan gemuk maka beliaulah yang berhak menjadi ibu yang sebenarnya sementara ibu yang berbadan kurus mendapatkan hukuman karena telah melakukan kesalahan akibat perbuatannya sendiri.

Diakhir cerita, saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia bahwa kita bisa belajar menjadi orang yang memiliki sifat kasih sayang seperti ibu tadi karena sifat kasih sayangnya, ia tidak tega melihat bayinya disakiti. Ibu itu memilih untuk mengalah dan berkorban demi keselamatan bayinya. Sifat mulianya ibu dan kasih sayangnya kepada anaknya adalah cerminan dari sifat kasih sayang Alloh SWT kepada hamba-hambaNya yang beriman. Itulah sifat Alloh SWT yang disebut dengan Ar-Rahim atau Maha Pengasih.

---
Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. Annisa (4): 16).

No comments:

Post a Comment